Wednesday, July 22, 2009

HUMANISME DALAM ISLAM

Sebetulnya udah lama kepengen banget nulis tentang humanisme, walopun ngga banyak yang saya tahu tentang humanisme itu sendiri.. Tapi, gara2 seminggu yg lalu sempet ada obrolan pendek dgn seorang teman ttg humanisme trus ditambah lagi beberapa hari lalu sempet nonton salah satu acara tipi yang bintang tamunya anton medan. Di acara itu anton medan bercerita bagaimana pada akhirnya proses pencariannya tentang Tuhan berakhir pada ajaran Islam..
Jadi, sebetulnya humanisme itu apa sih? Apa humanisme lebih mirip dengan agnostic atau bahkan atheis? apakah humanisme itu sebuah faham? Sebuah media dalam suatu proses pencarian ? Atau sebuah kesederhanaan cara pandang untuk sebagian orang? Atau mungkin juga sebuah bentuk keegoisan manusia?

Dulu, sejak di bangku awal sekolah dasar sampai beranjak remaja saya ikut pengajian di Mesjid Salman. Selama mengaji di Salman, para tutor kami yang kebanyakan mahasiswa ITB, sering punya cerita menarik (well, lebih berupa pengakuan dosa tepatnya,hee ), hafal dong anak2 ITB yg pada jenius selalu menuntut segala sesuatu dapat difahami dengan akal sehat..bahasa lainnya mungkin “pinter jadi keblinger” :p.. Beberapa dari mereka mengaku pernah stress berat karena memikirkan “ Tuhan itu apa?” , “ Surga atau neraka itu emang ada?”, terus, kalau kita sudah mati, whether masuk neraka atau surga, akan sampai berapa lama kita disana?” dan banyak pertanyaan2 lainnya.

Sempat beberapa dari mereka utk bbrp waktu memilih untuk menjadi seorang humanis (menurut perspektif barat) selama proses pencariannya akan Tuhan. Saat itu, bagi mereka ,yang penting adalah aktualisasi diri, berbuat kebaikan, tidak menyakiti sesama manusia dan menghargai sepenuhnya keberadaan orang lain.

Saya pribadi sempat kagum dengan konsep humanis yang banyak digembar-gemborkan dunia barat, tapi justru saya menemukan banyak “ missing link “ pada konsep tersebut di saat saya diberi kesempatan untuk hidup di satu tempat yg mayoritas orang2nya adalah pengikut konsep humanis. Saya mengamati adanya kegalauan dan kekurang jelasan tujuan hidup mereka.
Karena mengamati secara langsung, saat itu saya baru menyadari betapa saya sangat bersyukur dilahirkan menjadi seorang muslim, dimana semua pertanyaan2 dan aturan2 tentang hidup ( Habluminallah & Habluminannas ) diatur jelas dan diterangkan dengan jelas dalam Al-Qur’an.

Jika diperhatikan, sebenarnya Islam tidak bertentangan dengan humanisme. Dalam Islam kita mengenal trilogi ”iman-ilmu-amal” ; artinya iman berujung pada pengamalan/aksi. Dengan mengamalkan apa yang diperintahkan Tuhan, maka kita akan mengenal Tuhan.Islam sangat menjunjung tinggi rasionalisme. Menurut para pakar, humanisme dalam Islam mengandung dua dimensi, yaitu ”rasionalitas” (rationality) dan ”bersifat manusiawi” ( humanity ).

Salah satu konsep humanisme dalam islam yang terlihat sangat humanis adalah puasa, konsep zakat + sedekah yang sarat akan nilai-nilai kemanusiaan, serta konsep HablumMinannas ( etika berhubungan dengan sesama manusia ) yang diatur dengan lengkap dalam Al-Qur’an, konsep HablumMinannas ini pula yang telah membuat hati seorang anton medan mantap untuk menjadi seorang muallaf.

Ada ucapan seorang teman baik yang menurut saya adalah pernyataan yg bijak dan kena sasaran, dia bilang, jika seseorang menjadi seorang humanis karena sedang dalam proses pencarian, maka biarkan saja dia tetap mencari sampai hatinya menuntun dia menemukan jawabnya, tapi jika dia sudah menjadi seorang humanis mentok, maka, kita do’akan saja, semoga satu hari Tuhan akan memberinya petunjuk untuk berada di jalan-Nya.
Dan, jika kita masih mempertanyakan tentang keberadaan & aturan2 Tuhan, maka jalan yang sangat tepat adalah dengan cara menjalankan “ sami’na wa atho’na “ yang artinya “ dengarkan dengan hati dan laksanakan.

Perlu sebuah proses panjang untuk mendapatkan sebuah keyakinan, salah satu cara untuk meyakini kebesaran Tuhan adalah dengan mendengarkan dan melaksanakan perintah-Nya, dari sana akan lahir sebuah keimanan, keyakinan dan energi yang luar biasa besar dan nikmat saat kita berdekatan dengan-Nya.

Hidup adalah sebuah pilihan, dan setiap pilihan memiliki konsekuensi hak dan kewajiban yang sepatutnya diikuti.

Wednesday, July 15, 2009

That It's You I'm thinking of . .

Dia pernah tanya..
Mana tulisan buat aku?

Dia pernah tanya..
Kamu kangen aku ga sih?

Dia pernah tanya..
Kok kamu jaim sih?

Dan,
Dia juga pernah tanya..
Kapan aku ketemu papa kamu?

Hummmm..
Pernah terpikir untuk pergi darinya waktu kuamati tingkah nakalnya
Pernah terlintas untuk membuang jauh keinginan bersamanya saat terasa begitu sulit untuk bersama-samanya bersujud pada-Mu.
Pernah aku hanya ingin berlalu meninggalkannya saat kesetiaan itu kupertanyakan darinya, dan,
Pernah tak tahan rasanya berada dalam kegamangan sebuah pertanyaan :
“ He Loves Me, He Loves Me Not ”

Tapi,
Ternyata...
Tingkah lucunya membuat aku tersenyum geli dan enggan menjauh darinya.
Perhatiannya yang besar membuat aku tersanjung,
Saat bersandar di dada bidangnya, kutemukan rasa hangat dan aman, aku merasa terlindungi.. dia seorang penyayang dibalik sosok kelaki-lakiannya, dia seorang yang lembut dan merindukan belaian sayang dibalik sosok petualangnya.

Pengen rasanya aku menjawab pertanyaannya :
Saat aku sedih, aku selalu menuangkannya dalam blog-ku,
Dan saat-saat dengannya, aku selalu merasa bahagia, sampai-sampai tak ada waktu untuk menuangkannya dalam sebuah tulisan, karena inspirasiku nyata ada padanya.

Pengen aku beri pengertian, bukannya aku tak kangen dia atau tak ingin bersentuhan dengannya, tapi rasa malu dan takut ku pada Tuhan berada diatas segalanya..dan aku yakin, kalau aku dan dia ber-baik-baik pada Tuhan, pasti Tuhan akan hadiahkan kado terindah untuk kami berdua.

Dan, ...aku percaya, saat tak ada lagi yang perlu kita pertanyakan, saat kita sudah yakin dengan langkah kita ke depan, dengan santun kamu akan datang dan mohon restu papaku untuk berjanji menjaga aku, mendampingi aku dan bersama-sama menjalani hidup dalam ridho-Nya.

**
for our journey
Superboy + Supergirl