Wednesday, October 31, 2007
Kehilangan orang-orang yang dicintai dalam hidup bisa jadi satu hal yang bakal membuat kita bersedih. Tapi, ada lagi yang lebih bikin kita sedih.
Ketika kenyataan tak sesuai dengan harapan,
Ketika waktu enggan lagi menunggu, dan
Ketika do'a yang dipanjatkan berubah menjadi kepasrahan
Itulah saatnya merubah keinginan hati menjadi sekedar ilusi
Saat senyum dan tawa masih bisa tersungging dari hati yang berduka ataupun kecewa
Saat keikhlasan tidak hanya sekedar menjadi penghias ucapan
Ternyata,..semuanya terasa indah
Ternyata,..semuanya terasa ringan
uhhmm.. Ikhlas itu nikmat
Mungkin, itulah rahasia terbesar kenapa Allah Swt menempatkan ikhlas sebagai wujud keimanan yang tinggi
Ikhlas menuntun kita untuk tegar menghadapi banyak hal
Ikhlas menuntun kita untuk tidak hanya memikirkan diri kita sendiri
dan ikhlas menguatkan kita untuk membuang mimpi dan membiarkannya menjadi rahasia Tuhan yang harus dimengerti
We'll never know the way God thinking
Friday, October 19, 2007
Terkadang, untuk sebagian orang arti silsilah keluarga itu teramat sangat penting, apalagi dalam budaya Jawa dikenal dgn bibit,bebet dan bobot yg musti dijadiin bahan pertimbangan kaum Javanese untuk menentukan pasangan hidup misalnya. Weekend yang baru lalu, saya,kakak,dan beberapa sodara lainnya jalan-jalan ke Cirebon. Ditengah perjalanan,tidak jauh dari Cadas Pangeran, kami melewati patung Pangeran Kornel yang menyalami Gubernur Jenderal Willem Daendels dengan tangan kirinya. Patung tersebut hingga kini menjadi semacam reminder bangsa Indonesia, khususnya Jawa Barat, yang sudah sejak lama menentang penjajahan.
Melewati kota Sumedang,melihat patung Pangeran Kornel, mengingatkan saya lagi dengan cerita nenek tentang silsilah keluarga besarnya. Bagi saya sendiri terkadang timbul satu kerinduan untuk tahu siapa dan seperti apa wajah pendahulu saya tersebut.
Mungkin emang bener yang banyak temen saya bilang, bahwa love story saya mirip sama cerita dalam chicklit, kalo dipikir-pikir ya iya juga sih ada benernya, dan kalo dilihat dari sejarahnya kayanya emang udah ada ceritanya dalam keluarga besar saya untuk punya love story seperti layaknya dalam chicklit, tapi bukan love story ajah yang pengen saya tulis disini, most of all is about Life itself.
Dulu,
Nenek tercinta ( dari pihak Ayah ), terpaksa harus kehilangan kakek saat my beloved father masih dalam kandungan, karena katanya saat itu kakek diharuskan ikut berjuang waktu zaman penjajahan Jepang ( 1942-1945 ). But, Grandpa was never returned home. Sosok ayah yang Bapak kenal dan sosok abah/kakek yang kami kenal selama ini ternyata adalah step grandpa, yang dengan tulus banget menyayangi kita semua seperti anak-cucu kandungnya sendiri.
And so, we've never known our biological grandfather.
From my mother side, it was even more a touchy story
Nenek & mamah pernah cerita, bahwa leluhur kami berasal dari Sumedang. Orang-tua, nenek sampe buyut memang orang asli Bandung dan tinggal di kota ini seumur hidup mereka. Tapi ada cerita menarik and menyentuh juga dibalik cerita leluhur tersebut.
Nenek dari mamah, atau selalu kita sapa dengan Ibu, adalah sosok yang kalem & sangat sabar dengan kita cucu-cucunya, ga pernah marah atau bahkan membentak meskipun kita semasa kecil dulu pada nakal banget. Nenek sangat strict dalam mengajarkan agama dan manner kepada saya, cucu perempuan kesayangannya,hehe.. ( kebetulan dlm keluarga besar saat itu cuma ada 2 cucu perempuan ). Nenek selalu mengajarkan kita berbahasa sunda yang halus, sampai-sampai saya pernah diketawain orang karena saya tidak mengerti betul bahasa sunda kasar yang mereka gunakan.
Satu hari nenek bercerita bahwa kakeknya dari pihak ayah ( my great-great grandfather ) adalah seorang Bupati di Sumedang. Menurut nenek, saat muda dulu ayahnya nenek atau kakek buyut saya ( Abah Mihardja/Adja ) jatuh cinta dengan nenek buyut, yang bisa dibilang salah satu wanita paling cantik di daerah kami saat itu ( Bandung Timur ). Karena kecintaannya yang dalam kepada nenek buyut ( Ma Nini ), Abah Adja rela meninggalkan lingkungan keraton demi untuk menikah dengan Ma nini yang cuma rakyat biasa. Setelah pernikahannya, Abah Adja dan Ma Nini tinggal dan beranak pinak di daerah yang kami tinggali hingga saat ini. Sayangnya, entah karena rasa kecewa,sakit hati atau apapun alasannya, kakek buyut tidak pernah mau bercerita dari mulutnya sendiri mengenai jati dirinya. Ma Nini, istrinya sendiri, yang meskipun berumur panjang, dan cukup sering ngeloni saya tidur ketika kecil dulu, tidak pernah bercerita banyak tentang hal tersebut.
Keingintahuan akan sejarah keluarga tsb menuntun saya untuk mencari referensi buku tentang sejarah sumedang. . Setau saya, Nenek lahir tahun 1920, berarti diperkirakan kakek buyut saya lahir sekitar tahun 1890-1900, karena nenek adalah puteri pertama mereka. Pencarian silsilah sedikit mengerucut disini,karena hanya ada 2 nama yang menjadi Bupati Sumedang pada periode 1850 sampai awal 1900-an, yaitu Pangeran Soeria Koesoemah Adinata atau Pangeran Sugih ( 1836-1882 ) dan Pangeran Aria Soeria Atmadja ( 1883-1919 ). Sulit sekali mencari tahu asal-usul my great great grandfather itu karena dalam buku tsb diceritakan kalau Pangeran Sugih memiliki beberapa anak dari istri yang berbeda, so, we found a missing link here. Pangeran Aria Soeria Atmadja sepertinya lebih mendekati kemungkinan sebagai ayah dari kakek buyut kalo dilihat dari periode Beliau menjabat sebagai Bupati Sumedang dan juga dari ciri khas nama keluarga yang hingga kini masih paman saya sandang, hanya disini tidak pernah ada tulisan yg menceritakan siapa-siapa saja anak dari Pangeran Aria Soeria Atmadja tersebut. Pangeran Aria Soeria Atmadja sendiri terkenal sebagai bupati yang Islami, sederhana, dan berbudi luhur.
Semasa hidupnya, kakek buyut, yang walaupun telah meninggalkan kehidupan keraton dan hidup sebagai petani, tetap disegani banyak orang pada saat itu. Membawa cucu-cucunya untuk berbelanja di Jalan Braga atau sekedar berkuda dan berjalan-jalan memakai delmannya menjadi kesenangan yang sering dilakukan Abah Adja saat Ibu saya masih kecil. Ma Nini, sosok wanita lembut yang bahkan sampai Ia tua pun masih tampak sisa-sisa kecantikannya, menghembuskan nafas terakhirnya dengan tenang dan tampak tersenyum sambil diiringi kalimat-kalimat Tahmid ( saya menyaksikan sendiri kematian Ma Nini saat masih di kelas 4 SD ). Sementara Kakek buyut meninggal tenang saat tertidur diatas kursi malasnya. So, saya yakin mereka hidup tenteram dan bahagia dalam kesederhanaan hidup yang mereka berdua jalani.
Cerita diatas mengajarkan saya tentang satu hal, Tidaklah bijak rasanya kalau kita memandang harkat & martabat seseorang hanya berdasarkan darimana mereka berasal,karena nilai seseorang yang hakiki harus kita lihat dari akhlak setiap manusia itu sendiri seperti yang diajarkan Rasulullah SAW.
Luckily, dalam kesehariannya, baik Mamah, Paman dan keluarga lainnya menolak untuk mencantumkan embel-embel 'Raden' di dalam ID card mereka ( walaupun gelar Raden & Raden Nyai tsb tetap ada dalam surat kelahiran mereka ), Kami tidak ingin gelar tsb membatasi kami dari pergaulan luas dgn orang lain dan kami tidak ingin kalau nantinya kami akan bersikap 'agul' ( berbangga hati ) karena hal tsb.
Alhamdulillah,
walaupun hubungan kekeluargaan itu terputus,
walaupun saya tidak pernah tahu secara pasti seperti apa rupa/wajah leluhur kami,
tapi saya cukup berbangga hati karena ternyata saya datang dari keturunan yang baik..
Islami, rendah hati dan berbuat baik kepada sesama menjadi pelajaran berharga yang diwariskan kakek/nenek kepada kami anak cucunya.
still, we have a missing link in our genealogy