Sunday, May 20, 2007

CAN WE CONTROL OUR DESTINY ??

Pertanyaan itu terlontar dari mulut kakak ipar di acara pengajian keluarga yang biasa diadain di rumah setiap malam Jum’at.
Entah berapa tahun lalu, gw pun masih pertanyakan this @#Y*) question..

Masih inget banget, dulu zaman SMA dan mendekati masa kelulusan, gw pernah bilang ama semua temen2, ‘amit2 deh kalo sampe gw musti kuliah di Jatinangor,gw sih mendingan kaga masuk PTN daripada mesti kesana,ngga cooool’.. tapi perjalanan nasib yang ternyata menuntun gw lulus ujian masuk salah satu PTN disana and not to forget, tuntutan ortu yang memaksa gw to grab that chance..sooo, dengan motivasi berbakti kepada kedua orang tua, akhirnya kampusku, jetinenjerku, menjadi hari-hariku..

( Destiny numero uno: jalan hidup kadang ditentukan lewat orang tua )

… Umur 20 tahun, met someone, fallin’ in love, bahkan sempet planning to get married ( but what happened then ?? ) we broke up, and .. I flew to Europe to catch another dream, one way ticket menuju banyak pembelajaran…
( Destiny numero due: kemana hidup berarah seringkali tidak terduga )

…Story began in Europe, sang dara mungil dan dunia barunya, the very first mistake she made was upon arrival; Saltum alias salah kostum , si dara mungil tampak konyol dengan jacket kulit dan sepatu bootnya di tengah hot summer day, secara suhu udara saat itu 35 degrees ya nyong ( dimaklum d ) then followed by kekonyolan2 yang lain…et cetera, et cetera, et cetera… season by season gone by ( didalamnya ada pelajaran hidup # 1,2,3,4 dan seterusnya )
Ancaman deportasi pun menghantui, karena KTP disono ga bisa diperpanjang lagi, dan mempertimbangkan keinginan orang tua untuk selesein kuliah di Bandung, yang akhirnya menuntun gw untuk balik ke Bandung..so, I left my tiny apartment, my friends, my second home..and so I sing “ I’m leaving on a Jet Plane don’t know when I’ll be back again “ ( stop! stop! Musnahkan cassette dan CD nya,)..

( Destiny numero tre : again, orang tua menjadi salah satu factor yang menentukan pilihan hidup yang kita ambil )

…There it goes, I’m a student again.. met new good friends, and soon find a job as well.. waktu mempertemukan gw dengan banyak temen and enhancing my networking of course, iseng2 pengen belajar kerja, eh malah ditawarin kerja betulan..so ever since, I started my day sebagai yang orang bilang “ wanita kérir ”, Alhamdulillah banget, Tuhan selalu kasi gw kemudahan dalam urusan kerjaan ( dulu, dari sejak SMP, orang tua slalu ngajarin buat sering2 sholat Dhuha, dan mungkin ini bukti yang Allah janjikan bahwa dengan menjalankan sholat Dhuha, Insya Allah bakalan digampangin rejekinya, amien, I can never thank enough for that )..
( Destiny numero Quattro : don’t worry ‘bout money, Rejeki udah diatur ama yang Diatas )

…2004, kuliah udah kelar,kerjaan udah ada, next big thing is..find new love and soon to be married .. and so, early 2005 was on my way for the big day ( but guess, what happened then ?? )..again, bukannya bahagia dan mengikat janji dengan sang kekasih, eeh malah berubah jadi movie show ‘ The Runaway Bride ‘.. beginilah ceritanya kalo hati yang mengatur jalan hidup kita dan keinginan untuk menikah (pada saat itu) baru sebatas love the idea of getting married..
( Destiny numero cinque : Kalo bukan Jodoh ya jangan dipaksain )


…Then, hari hari gw mengalir, flows like a flowing water ..yang ada dalam pikiran gw since then adalah menjalani dan menikmati my days in Simplicity, expect less and give more.. waktu pun berlalu,..by the time, Tuhan menuntun gw untuk menyadari satu hal; ( flashback : dulu gw suka berfikir bahwa “ I am young, I have a nice family, Independent, have a nice job and have a nice friends, what else could be better than that? ” belagu banget ye..).. tapi ternyata I was wrong, wrong, completely wrong! I am NOT a super woman.. perjalanan waktu telah meyadarkan gw bahwa fitrah setiap orang adalah untuk berpasang-pasangan, every woman needs a man and not just vice versa ( may God send me soon my Mr.Right :P ).. terkadang Tuhan menunjukkan kebesaran-Nya dan memberi pelajaran kepada Hamba-Nya melalui cara yang tak terduga
..dan keangkuhanku pun sirna..

( Destiny numéro sei : Takdir merupakan bagian dari pembelajaran tentang hidup itu sendiri, mungkin sulit pada awalnya, tapi itulah rahasia Tuhan yang menjadikannya sebagai La Belleza Della Vita, sebuah keindahan dalam hidup )

( grazie mille Mio Dio )

1 comment:

Anonymous said...

Tetep semangat, Ms. Didi :)