Monday, December 25, 2006

REAL LIFE EXAMPLE OF A PEACEFUL WORLD
A true story about beautiful friendship

St.Albantor Strasse 228, Saturday nite, late Summer in 2001. Candy dan teman satu apartemennya, Kamma, sibuk menyiapkan diri masing - masing untuk melewatkan malam minggu mereka. Di akhir minggu, seringkali Candy dan Kamma melewatkannya hanya dengan duduk-duduk hang out di salah satu Coffee Shop ataupun seperti layaknya cewek – cewek kebanyakan yaitu menghabiskan waktu dengan belanja, syukur - syukur kalo lagi ada rejeki mereka travelling ke negara tetangga. Begitulah keduanya seringkali menghabiskan akhir minggu mereka.

Beberapa orang yang dekat dengan keduanya, seringkali merasa heran sekaligus kagum melihat kedekatan Candy dan Kamma, mereka menyebut kedua sahabat itu sebagai
Real Life Example of a Peaceful World,..kalau diteliti lebih dalam, sebutan itu banyak betulnya juga, karena bagaimana tidak, keduanya sangat – sangat berbeda satu sama lain, malah bisa dibilang aneh kalo ternyata mereka bersahabat erat. Candy, a cute little Asian girl, easy going , an optimist young lady, speaks 3 foreign languages and try to be a good Moslem ( and support for Palestinian freedom ), organized her life pretty good sometimes being perfectionist…and Kamma girl, uhmm,..She’s an energetic, spontaneous passionate woman, about 6 feet tall, speaks 4 foreign languages and she's a Jewish ( support any Israeli movement to occupied what they claimed as homeland in Palestine ). Anyway, ternyata kedua sahabat itu sukses membuktikan pada semua orang bahwa perbedaan betul-betul tidak bisa dijadikan alasan buat ngga akur.

“ So, bisch fertig schatz’? ” Kamma memastikan Candy untuk segera berangkat. “ Ja, in Augenblick “, Candy tak ingin sahabatnya menunggu dia terlalu lama. Selama satu minggu itu Candy dan Kamma tak hentinya membahas tentang kehidupan para Gay dan bagaimana para pria Eropa merasa tertarik dengan Gay woman yang menurut beberapa orang yang mereka temui, European men think Lesbian are Sexy. Keisengan keduanya pun bahkan telah mereka buktikan pada malam minggu sebelumnya. di musim panas, dimana matahari baru tenggelam sekitar pukul sepuluh malam, Candy dan Kamma sedang asyik menikmati meriahnya suasana Kafe di sepanjang Barfusserplatz. In Summer, especially on weekend, Cafe-Cafe ramai sekali oleh muda mudi maupun golongan usia yang lebih tua asyik bercengkrama dan menghabiskan waktu disana.


Suddenly, Kamma came up with her silly idea, “Dee, what if we prove ourselves whether Lesbian does attract those men or not ?” Kamma meminta persetujuan Candy untuk melaksanakan idenya. ” hmm, sound interesting, but how ?” tanya Candy yang memang punya curiosity yang tinggi langsung mengiyakan ide sahabatnya . Kamma dan Candy pun memulai aksinya. Dimulai dari Barfusserplatz menuju ke Kannonnengasse, mereka bergandengan tangan, terkadang berpeluk mesra sesekali mereka lakukan untuk menunjukkan kemesraan mereka, dan, ternyata benar saja, selama sekitar setengah jam mereka melakukan aksinya, di sepanjang jalan yang mereka lewati tidak henti-hentinya para pria muda yang tengah ngongkow di Café-café tersebut memperhatikan mereka dan senyuman ramah pun tidak lupa mereka lemparkan kepada Candy dan Kamma. Nampak sekali kedua wanita muda ini menarik perhatian para pria disana.

Malam itu Candy dan Kamma berencana untuk melakukan pembuktian terakhir mengenai teori itu. Apartemen mungil di lantai dua yang letaknya berdekatan dengan The Famous Rhine River pun mereka tinggalkan. Setelah sempat beberapa kali berganti Tram, Candy dan Kamma pun sampai di Freiegasse dan berjalan menuju salah satu Gay Club di daerah tersebut. Ya, tempat pembuktian terakhir yang mereka pilih adalah sebuah Gay Club, tempat dimana para kaum homoseksual biasa berkumpul. Candy dan Kamma pun memasuki club tersebut dan keduanya tampak sedikit canggung karena ini adalah yang pertama kali mereka memasuki sebuah gay club.

Wah .. wah . . ternyata bukan hanya pasangan muda-sejenis saja yang mereka temui disana, akan tetapi banyak juga pasangan sejenis yang sudah berusia sangat dewasa ada disana. Kehadiran Candy di tempat itu menarik perhatian banyak pasang mata, apalagi kalau bukan karena asian look-nya yang menurut orang exotic. “ Kamma, ich glaube wir mussen Jetzt los “, Candy meminta Kamma untuk segera meninggalkan tempat tersebut. Kamma tidak begitu mengindahkan keinginan Candy, karena tampaknya Ia cukup menikmati suasana di Gay Club itu. Akhirnya karena Candy merasa sangat tidak nyaman being in that place, Candy pun meninggalkan Club tersebut seorang diri setelah kurang lebih selama satu jam berada disana.
Keesokan harinya, Kamma dan Candy berkesimpulan bahwa lesbian does attracts men, not because of how they are but it is more to its challenge. Man find sort of ladies are sexy and any kind of way that make them become attracted to men is challenging…well, something challenging is always sexy, isn’t it ?

So, that was one of silly things yang mewarnai persahabatan dua orang wanita dari latar belakang yang berbeda ini.

Today,..

Kamma : Had finished her Master Degree in Law, she broke up with her Israeli boy friend, working at one Law Firm in her origin, Poland , decided not to get married anytime in the future and since 2 years ago she's seeing a woman only ( still Candy respect Kamma's idea of becoming lesbian ) .

Candy : Living in her hometown in Indonesia, had finished her study in Communications, working as Public Relations and still being an independent woman ( walopun ngakunya kadang2 cape juga slalu jadi independent woman) .

Candy and Kamma are two very different person which represent their own identity, nation and beliefs. The secret of their nice-beautiful friendship is RESPECT. A friendship that never fence each other’s beliefs, tolerance, never drive ones idea to each others and only demand for RESPECT. . And that’s how they understood each other.






No comments: